Headlines News :
Home » » Tantangan dan Harapan PKPT IPNU IPPNU Ke Depan

Tantangan dan Harapan PKPT IPNU IPPNU Ke Depan

Written By Unknown on Jumat, 19 Juli 2013 | 00.35

Dewasa ini dunia sedang dihadapkan pada arus globalisasi yang dahsyat. 

Kemajuan ilmu pengetahuan yang telah menghasilkan teknologi komunikasi canggih, memacu makin cepatnya penerimaan informasi. Bola bumi sudah tampak begitu kecil, sehingga apa yang terjadi di belahan barat sana yang jaraknya ribuan kilometer segera dapat diketahui di sini pada atau sesaat setelah peristiwa itu terjadi.
Tampilnya sosok figur seperti Alm. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), M. Amin Rais, Akbar Tanjung dan tokoh-tokoh muslim lainnya di gelanggang politik praktis tingkat nasional merupakan realita yang menarik untuk diketahui bersama, sebab mereka merupakan orang-orang yang sebenarnya dikenal hanya sebagai tokoh agama yang tidak berafiliasi ke salah satu partai politik, seiring dengan gerakan reformasi terutama bidang politik, merekalah yang paling gigih mendorong revolusi sosio politic di Indonesia di penghujung abad ke- 20 yang silam.
Namun arus perjalanan peradaban saat ini, membutuhkan energi yang ekstra super power untuk memutar otak lebih dua kali lipat sebelum bertindak. Dengan demikian, disi lain seiring kemajuan kondisi zaman era kontemporer, terdapat beberapa dampak tantangan dan harapan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh organisasi kenamaan IPNU-IPPNU di perguruan tinggi, diantaranya sebagai berikut:
Pertama, Daya saing organisasi di perguruan tinggi yang semakin kompleks dengan turut hadirnya Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) IPNU-IPPNU. Terdeskripsikan di saat era modernisasi sekarang ini, tampak jelas ramai dan maraknya beragam organisasi dikalangan kampus yang kian hari semakin menjamur, berbagai latar belakang maksud dan tujuan yang lebih bersifat heterogen menimbulkan berbagai kendala persaingan yang kompetitif, untuk pengembangan IPNU-IPPNU di perguruan tinggi.
Mulai dari prosesi perekrutan masa atau lebih tepatnya kaderisasi, ambigiutas jabatan anggota, serta kurang teroptimalisasikan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki latar belakang disipliner keilmuwan. Sehingga kemampuan pengembangbiakan menjadi lambat. Dengan demikian diperlukan adanya upaya strategi yang tepat untuk pengembangan PKPT IPNU-IPPNU ke depan, diantaranya sebagai berikut; peningkatan kualitas SDM dengan disiplin ilmu tertentu sesuai dengan kadar kemampuan masing-masing rekan/ita harus terpenuhi. Hal ini diperlukan guna untuk memicu kebutuhan pengembangan pada sektor departemen ataupun lembaga organisasi. Perlu keterlibatan dan dukungan penuh karakter dari praktisi/ akademisi untuk ikut andil membangun konstruksi organisasi IPNU-IPPNU di perguruan tinggi, agar lebih bisa diterima oleh khalayak umum.
Kedua, belum adanya legalitas formal status Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi IPNU di Pimpinan Pusat. Supremasi  hukum masih kurang memadai, walaupun pasca pertemuan PKPT IPNU-IPPNU Se- Jawa Timur pada dekade lalu, yang bertempat di Ponpes Mukmin Mandiri itu berlangsung khidmat penuh dengan suasana kekeluargaan dalam membahas regulasi PKPT IPNU dimasa yang akan datang.
Kendati masih banyak kekurangan disana-sini, alhasil dari sarasehan forum komunikasi pertemuan pertama dan yang utama itu menghasilkan beberapa banyak rumusan yang dapat digunakan sebagai acuan dasar sementara peraturan PKPT IPNU-IPPNU di Perguruan tinggi Jawa Timur khususnya, dan umum Nya di perguruan tinggi Indonesia. Entah, kapan itu bisa direalisasikan secara komprehensif. Maka setidaknya dari PP IPNU mampu mengupayakan adanya wadah IPNU di perguruan tinggi Indonesia, dengan ketentuan peraturan hukum yang valid dan jelas sesuai dengan perkembangan menurut situasi, kondisi, zaman, tempat dan waktu.
Ketiga, tidak semua anak-anak orang NU, ketika meneruskan jenjang pendidikan perguruan tinggi Nya masuk IPNU-IPPNU. Banyaknya anak-anak muda NU yang masuk organisasi lain, dimungkingkan kurang diminati. Arus kelahiran organisasi ini, tidak lain dan tidak bukan yakni untuk menyatukan seluruh kawula muda Nahdliyin khususnya pelajar, santri dan mahasiswa, dan umumnya bagi para kaum muda muslimin yang ada diluar stuktural kepengurusan.
Sudah sepatutnya IPNU-IPPNU harus kembali pada jati diri nya masing-masing sesuai dengan fitrah dan identitasnya sebagai organisasi yang bergerak di bidang keilmuan, pengabdian dan latihan kepemimpinan untuk masa yang akan datang. Jadi sudah sepatutnya organisasi keterpelajaran ini melaunching sebuah progam yang bisa menarik dari segenap stake holder akademik dan dapat dirasakan dari berbagai kalangan. Salah satu diantaranya dengan membuka wahana belajar sebagai tempat untuk saling berbagi ilmu dari individu ke individu yang lain (majlis ilmu) tanpa memandang status sosial yang dijabat. boleh jadi apa yang saya ketahui belum tentu diketahui oleh orang lain, begitu juga sebaliknya apa yang anda ketahui boleh jadi belum saya ketahui. Besar harapan kita semua bagaimana rekan/ita mewawasankan ilmu salaf yang menggenang dan mengisi intelektual, moralitas dan spritualitas dengan khazanah materi agama.
Selanjutnya, PKPT IPNU-IPPNU juga dihadapkan pada masalah vital remaja dan pelajar secara universal. Kita ketahui bersama betapa kompleks persoalan pemuda yang harus direspon dan disikapi oleh rekan/ita. Terlihat kompleksitas problem pelajar dan pemuda di tanah air tercinta ini. Dihitung-hitung punya perhitungan mulai dari maraknya kekerasan pelajar (tawuran), free sex, pemakaian narkoba (Nge-Drug), fans berat And The real Idol dan masih banyak lainnya. Kesemuanya itu merupakan bentuk dari krisis moralitas jati diri. Maka perlu adanya perhatian khusus untuk memberikan kontribusi energi positif langsung ke generasi muda.
Fenomena akhir-akhir ini, tidak sedikit banyak para remaja di era globalisasi sekarang ini suka berasyik-masuk dengan hal-hal negatif, sehingga melekatlah pada diri mereka mendapatkan gelar nama sebagai “remaja nakal”, “remaja bermasalah”, bahkan lebih tragis lagi, ada yang menyebut mereka sebagai “sampah masyarakat” Na’udzubillah. Di sisi lain, kita ketahui bersama bahwasanya sejatinya masa remaja adalah masa-masa yang terindah yang tidak akan pernah terulang kembali.
Melihat kecenderungan seperti ini kita tidak perlu marah, justru harus introspeksi/ mawas diri untuk selanjutnya melakukan tindakan yang jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Bukankah agama mengajarkan “jika hari ini lebih baik dari hari yang kemarin maka kita termasuk orang yang beruntung, begitu juga sebaliknya jika hari ini tidak jauh beda dengan hari yang kemarin maka kita termasuk golongan orang yang merugi”. Mudah-mudahan kita semua dimasukkan kategori orang yang beruntung.
Konkritnya, dalam kehidupan ini tidak akan pernah terjadi seseorang merasakan senang dan bahagia terus sepanjang hidupnya tanpa ada masalah, suatu saat pasti dia akan merasakan kesedihan. Demikian juga sebaliknya, tidak ada seorang pun yang dalam hidupnya selalu dirundung kesedihan seumur hidupnya, suatu ketika dia pasti juga merasakan kesenangan dan kebahagiaan. Masalah sedih, atau tawa dan tangis adalah bagian dari hidup yang pasti akan dialami oleh siapapun. Dan sudah semestinya PKPT IPNU-IPPNU menyelenggarakan kegiatan-kegiatan pengabdian yang rohmatan lil ’alamin.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Universitas Sunan Giri | IPNU-IPPNU UNSURI | PC IPNU IPPNU Sidoarjo
Copyright © 2011-2014. PKPT IPNU IPPNU UNSURI - All Rights Reserved
 photo b3-2_zps7344ee4c.png
Template Design by IPNU Cyber Team Published by IPNU-IPPNU UNSURI